B50 Mulai Berlaku, Aptrindo Khawatir Biaya Operasional Truk Makin Berat

B50 Mulai Berlaku, Aptrindo Khawatir Biaya Operasional Truk Makin Berat



Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai kenaikan biaya operasional akibat implementasi biodiesel B50 belum bisa langsung diimbangi dengan kenaikan tarif angkutan. Persaingan yang ketat di industri logistik membuat pelaku bisnis masih memilih melakukan efisiensi dibanding menaikkan tarif kepada konsumen.

Ketua Umum DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan menuturkan, secara bisnis setiap kenaikan biaya operasional seharusnya tercermin dalam tarif jasa angkutan. Namun kondisi pasar saat ini belum memungkinkan pengusaha melakukan penyesuaian harga secara sepihak.

"Sebagian signifikan badan bisnis masih berupaya melakukan efisiensi internal agar tetap kompetitif. Karena itu, apabila biaya operasional terus meningkat sementara tarif tidak dapat disesuaikan, maka margin bisnis angkutan akan semakin tertekan," ujar Gemilang kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Menurut Gemilang, tambahan biaya tidak hanya berasal dari penggantian komponen kendaraan. Kerugian yang lebih signifikan justru muncul ketika armada harus berhenti beroperasi akibat gangguan pada sistem bahan bakar.

Ia memaparkan, satu unit truk yang mengalami downtime dapat menyebabkan keterlambatan distribusi sekaligus menghilangkan potensi pendapatan harian korporasi. Dalam industri logistik, biaya tidak langsung seperti kehilangan produktivitas kerap lebih tinggi dibandingkan biaya perbaikan kendaraan itu sendiri.

Aptrindo mengaku mendukung program pihak pemerintah dalam meningkatkan bauran energi melalui implementasi B50. Namun asosiasi meminta penerapan biodiesel dengan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang lebih tinggi dilakukan secara bertahap dan didasarkan pada hasil pengujian teknis yang komprehensif.

Menurut Gemilang, semakin tinggi kandungan FAME berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada sistem bahan bakar, terutama pada armada logistik yang beroperasi dengan intensitas tinggi. Apabila tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat menurunkan keandalan armada sekaligus meningkatkan biaya operasional korporasi.

Berkaca dari implementasi B40, sejumlah anggota Aptrindo melaporkan beberapa kendala di lapangan, antara lain filter solar lebih cepat kotor, muncul endapan pada tangki dan saluran bahan bakar, hingga gangguan pada injector dan fuel pump. Meskipun demikian, Gemilang menegaskan tidak semua kendaraan mengalami persoalan serupa karena dipengaruhi usia kendaraan, spesifikasi mesin, kualitas perawatan, dan mutu bahan bakar yang digunakan.

Untuk mengurangi risiko gangguan, badan bisnis angkutan melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari mempercepat penggantian filter solar, memperketat jadwal perawatan sistem bahan bakar, membersihkan tangki secara berkala, hingga menambah stok filter dan suku cadang. Seluruh langkah tersebut, menurut Gemilang, turut menambah beban operasional badan bisnis.

Gemilang juga mengaku asosiasinya telah menyampaikan masukan kepada pihak pemerintah agar implementasi biodiesel dilakukan bersama evaluasi teknis yang melibatkan agen pemegang merek (ATPM), produsen mesin, operator angkutan, Pertamina, dan kalangan akademisi. Asosiasi berharap transisi menuju B50 tetap menjaga keandalan armada logistik sehingga distribusi barang tidak terganggu.

 



Daftar Kabar Online!

Daftarkan Email anda untuk mendapatkan Informasi Terbaru yang mungkin akan sangat berguna bagi anda!